Prasetyo Siddik

Praktisi Mindfulness dan Coach di bidang pengembangan diri, beasiswa dan keluarga (life coaching).

Mindfulness Series: Rajinlah Ibadah, Rizkimu Sudah Dijatah


Saudaraku, apakah sebenarnya kehidupan di dunia ini semuanya hanya untuk memenuhi berbagai keinginan manusia semata? Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam daripada itu? Apa sebenarnya esensi dari tujuan hidup kita ini?

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rizki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56-58).

Atas dasar ayat tersebut di atas, maka tujuan penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah. Fungsi lain hanyalah sebagai penunjang. Dan Allah swt tidak berhajat kepada manusia, karena justru Allah lah yang memberikan rizki kepada seluruh makhluk melalui kekuasaan dan kekuatannya yang sangat kokoh.

Berkaitan dengan ayat tersebut, di dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan sebuah hadits qudsi bahwa: Imam Ahmad mengatakan abhwa dari Abu Hurairah radiyallahu anhu mengatakan bahwa Rasulullah saw, telah menceritakan hadits qudsi, bahwa Allah swt, telah berfirman: “Hai anak adam, tekunlah beribadah kepada-Ku, niscaya Kupenuhi dadamu dengan kekayaan dan Kututup kefakiranmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu.”

Konon, Nabi Yahya a.s. saat masih kecil sedang berjalan pulang dari Baitul Maqdis, lalu diajak untuk bermain oleh teman-teman sebayanya. Maka Yahya menjawab “ma huliqtu li hadza” (aku tidak dicipta untuk ini), seraya terus berlalu pulang.

Penataan mindset bahwa hidup untuk beribadah adalah sangat penting supaya tidak terbalik orientasi kehidupan kita, yaitu hanya untuk bermain, hanya untuk bekerja, hanya untuk mengejar dunia. Maka hubungan yang sehat antara berbagai hal dengan ibadah adalah, hendaknya orientasi utama kita adalah ibadah, sedangkan hal-hal lain hendaknya digunakan sebagai alat untuk memperbagus ibadah kita. Karena dengan ini lah nanti kita akan dinilai keberhasilan kehidupan kita di dunia, artinya mission accomplished. Hal ini selaras dengan ungkapan Rasulullah saw, bahwa ad-dun-ya mazra’atul aakhirat, bahwa dunia adalah ladang untuk akhirat. Jadi dunia ini harus digunakan untuk memperbanyak bekal kita di akhirat kelak. Ibarat ladang, maka dunia adalah tempat menanam berbagai kebaikan, supaya saat kita kembali kepada Allah, maka bekal kita mencukupi guna menempuh perjalanan panjang.

Agar ibadah kita lebih sempurna diperlukan perbekalan, peralatan, kekuatan dan sarana. Untuk itu wajib bagi kita mengupayakan adanya perbekalan dan peralatan, kekuatan dan sarana agar ibadah kita lebih banyak, lebih sempurna. Maka hal-hal itu menjadi wajib untuk diupayakan sebagai suatu usaha dan ikhtiar. Bekerjanya kita untuk memperoleh sarana bagi ibadah kita tersebut merupakan area mempersiapkan asbab (berbagai sebab). Namun demikian, jika hal tersebut telah mencukupi bagi kita untuk memenuhi berbagai bekal ibadah dimaksud, maka menjadi tidak wajib lagi kita mengupayakan tambahan bekal dan tambahan harta, dan sebaiknya lebih banyak fokus untuk memperbanyak ibadah. Karena dikhawatirkan jika tetap memperluas asbab tadi maka kecenderungannya kepada dunia menjadi berlebihan dan bermegah-megahan, sedangkan hal tersebut dapat melalaikan diri dari beribadah. Menjaga kadar dan keseimbangan itu menjadi penting agar tidak terjadi reorientasi. Tanda dan ukuran bagi kecukupan dan adanya ridho Allah atas ikhtiar kita pada area asbab tersebut adalah: (1) usaha tersebut cukup untuk keperluan kita dan membantu orang fakir miskin, (2) usaha yang dijalankan tidak melalaikan diri dari berdzikir kepada Allah swt, (3) usaha tersebut tidak mengandung dan mendorong kita kepada hal-hal yang diharamkan oleh Allah, (4) usaha tersebut dilakukan bersama dengan orang-orang yang baik, (5) usaha tersebut menjauhkan dirinya dengan orang-orang yang jahat, (6) usaha tersebut didasarkan pada niat yang sholih.

Niat yang baik tersebut akan membedakan ciri usaha dan ikhtiar seseorang dari yang lain, dan menjadi ukuran jatuhnya sebagai ibadah atau bukan. Niat yang baik tercermin dari beberapa hal yaitu: (1) usaha ditujukan untuk mencari anugerah Allah (fadhlillaah), karena anugerah Allah itu lebih khusus dari rizki, karena di dalam rizki terdapat bagian rizki yang halal dan juga rizki yang haram. Maka yang menjadi anugerah Allah adalah rizki yang halal semata.

“Dan jika telah engkau tunaikan sholat (jumat), maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah anugerah Allah, dan berdzikirlah kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumu’ah: 10)

Dari ayat ini terlihat bahwa perintah mencari anugerah Allah tersebut diletakkan diantara dua dzikir, yaitu sholat dan berdzikir secara spesifik. Maka kedudukan dzikir ini menjadi sangat penting dibandingkan dengan urusan dunia yang diusahakan dan diupayakan pada saat bertebaran di muka bumi.

Ciri yang kedua dari niat yang baik adalah usaha yang dilakukan itu merupakan salah satu upaya darinya untuk menolong sesama muslim, bukan semata-mata untuk dunia dan keuntungan pribadinya atau bahkan mendzolimi sesama muslim. Dengan demikian, usaha tersebut digunakannya untuk memperbanyak manfaat yang bisa dia sebarkan bagi umat Islam.

Namun demikian, apabila usahanya tersebut tidak memiliki ciri sebagaimana disebutkan di atas, maka seorang muslim yang baik hendaknya lebih memfokuskan diri kepada ibadah, karena sebenarnya Allah telah menjamin rizki baginya. Karena boleh jadi usaha dan pekerjaan yang dilakukan justru menjauhkan dirinya dari beribadah dan mengingat Allah. Maka perlu direnungkan dan dipikirkan kembali agar jangan sampai usahanya tersebut justru mendorong dirinya ke jalan kebinasaan di akhirat kelak. Boleh jadi dengan lebih memfokuskan dirinya kepada ibadah dibandingkan dengan berusaha atau bekerja untuk dunia semata, maka padanya akan terdapat kebaikan dengan ciri-ciri : (1) Allah mudahkan dengan kecukupan kehidupan tanpa banyak usaha, (2) Allah jadikan dirinya tenang pada saat tidak memiliki harta, (3) tidak ada rasa tamak kepada milik orang lain, (4) bersihnya waktu disibukkan dengan ibadah kepada Allah.

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Semoga Allah swt merahmati kita semua dengan hati yang bersih dan pekerjaan yang senantiasa bernilai ibadah tanpa melupakan dzikir kepada Allah. Aamiin.

(Catatan Sangaji)

Mindfulness Series: Rajinlah Ibadah, Rizkimu Sudah Dijatah


Saudaraku, apakah sebenarnya kehidupan di dunia ini semuanya hanya untuk memenuhi berbagai keinginan manusia semata? Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam daripada itu? Apa sebenarnya esensi dari tujuan hidup kita ini?

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rizki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56-58).

Atas dasar ayat tersebut di atas, maka tujuan penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah. Fungsi lain hanyalah sebagai penunjang. Dan Allah swt tidak berhajat kepada manusia, karena justru Allah lah yang memberikan rizki kepada seluruh makhluk melalui kekuasaan dan kekuatannya yang sangat kokoh.

Berkaitan dengan ayat tersebut, di dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan sebuah hadits qudsi bahwa: Imam Ahmad mengatakan abhwa dari Abu Hurairah radiyallahu anhu mengatakan bahwa Rasulullah saw, telah menceritakan hadits qudsi, bahwa Allah swt, telah berfirman: “Hai anak adam, tekunlah beribadah kepada-Ku, niscaya Kupenuhi dadamu dengan kekayaan dan Kututup kefakiranmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu.”

Konon, Nabi Yahya a.s. saat masih kecil sedang berjalan pulang dari Baitul Maqdis, lalu diajak untuk bermain oleh teman-teman sebayanya. Maka Yahya menjawab “ma huliqtu li hadza” (aku tidak dicipta untuk ini), seraya terus berlalu pulang.

Penataan mindset bahwa hidup untuk beribadah adalah sangat penting supaya tidak terbalik orientasi kehidupan kita, yaitu hanya untuk bermain, hanya untuk bekerja, hanya untuk mengejar dunia. Maka hubungan yang sehat antara berbagai hal dengan ibadah adalah, hendaknya orientasi utama kita adalah ibadah, sedangkan hal-hal lain hendaknya digunakan sebagai alat untuk memperbagus ibadah kita. Karena dengan ini lah nanti kita akan dinilai keberhasilan kehidupan kita di dunia, artinya mission accomplished. Hal ini selaras dengan ungkapan Rasulullah saw, bahwa ad-dun-ya mazra’atul aakhirat, bahwa dunia adalah ladang untuk akhirat. Jadi dunia ini harus digunakan untuk memperbanyak bekal kita di akhirat kelak. Ibarat ladang, maka dunia adalah tempat menanam berbagai kebaikan, supaya saat kita kembali kepada Allah, maka bekal kita mencukupi guna menempuh perjalanan panjang.

Agar ibadah kita lebih sempurna diperlukan perbekalan, peralatan, kekuatan dan sarana. Untuk itu wajib bagi kita mengupayakan adanya perbekalan dan peralatan, kekuatan dan sarana agar ibadah kita lebih banyak, lebih sempurna. Maka hal-hal itu menjadi wajib untuk diupayakan sebagai suatu usaha dan ikhtiar. Bekerjanya kita untuk memperoleh sarana bagi ibadah kita tersebut merupakan area mempersiapkan asbab (berbagai sebab). Namun demikian, jika hal tersebut telah mencukupi bagi kita untuk memenuhi berbagai bekal ibadah dimaksud, maka menjadi tidak wajib lagi kita mengupayakan tambahan bekal dan tambahan harta, dan sebaiknya lebih banyak fokus untuk memperbanyak ibadah. Karena dikhawatirkan jika tetap memperluas asbab tadi maka kecenderungannya kepada dunia menjadi berlebihan dan bermegah-megahan, sedangkan hal tersebut dapat melalaikan diri dari beribadah. Menjaga kadar dan keseimbangan itu menjadi penting agar tidak terjadi reorientasi. Tanda dan ukuran bagi kecukupan dan adanya ridho Allah atas ikhtiar kita pada area asbab tersebut adalah: (1) usaha tersebut cukup untuk keperluan kita dan membantu orang fakir miskin, (2) usaha yang dijalankan tidak melalaikan diri dari berdzikir kepada Allah swt, (3) usaha tersebut tidak mengandung dan mendorong kita kepada hal-hal yang diharamkan oleh Allah, (4) usaha tersebut dilakukan bersama dengan orang-orang yang baik, (5) usaha tersebut menjauhkan dirinya dengan orang-orang yang jahat, (6) usaha tersebut didasarkan pada niat yang sholih.

Niat yang baik tersebut akan membedakan ciri usaha dan ikhtiar seseorang dari yang lain, dan menjadi ukuran jatuhnya sebagai ibadah atau bukan. Niat yang baik tercermin dari beberapa hal yaitu: (1) usaha ditujukan untuk mencari anugerah Allah (fadhlillaah), karena anugerah Allah itu lebih khusus dari rizki, karena di dalam rizki terdapat bagian rizki yang halal dan juga rizki yang haram. Maka yang menjadi anugerah Allah adalah rizki yang halal semata.

“Dan jika telah engkau tunaikan sholat (jumat), maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah anugerah Allah, dan berdzikirlah kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumu’ah: 10)

Dari ayat ini terlihat bahwa perintah mencari anugerah Allah tersebut diletakkan diantara dua dzikir, yaitu sholat dan berdzikir secara spesifik. Maka kedudukan dzikir ini menjadi sangat penting dibandingkan dengan urusan dunia yang diusahakan dan diupayakan pada saat bertebaran di muka bumi.

Ciri yang kedua dari niat yang baik adalah usaha yang dilakukan itu merupakan salah satu upaya darinya untuk menolong sesama muslim, bukan semata-mata untuk dunia dan keuntungan pribadinya atau bahkan mendzolimi sesama muslim. Dengan demikian, usaha tersebut digunakannya untuk memperbanyak manfaat yang bisa dia sebarkan bagi umat Islam.

Namun demikian, apabila usahanya tersebut tidak memiliki ciri sebagaimana disebutkan di atas, maka seorang muslim yang baik hendaknya lebih memfokuskan diri kepada ibadah, karena sebenarnya Allah telah menjamin rizki baginya. Karena boleh jadi usaha dan pekerjaan yang dilakukan justru menjauhkan dirinya dari beribadah dan mengingat Allah. Maka perlu direnungkan dan dipikirkan kembali agar jangan sampai usahanya tersebut justru mendorong dirinya ke jalan kebinasaan di akhirat kelak. Boleh jadi dengan lebih memfokuskan dirinya kepada ibadah dibandingkan dengan berusaha atau bekerja untuk dunia semata, maka padanya akan terdapat kebaikan dengan ciri-ciri : (1) Allah mudahkan dengan kecukupan kehidupan tanpa banyak usaha, (2) Allah jadikan dirinya tenang pada saat tidak memiliki harta, (3) tidak ada rasa tamak kepada milik orang lain, (4) bersihnya waktu disibukkan dengan ibadah kepada Allah.

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Semoga Allah swt merahmati kita semua dengan hati yang bersih dan pekerjaan yang senantiasa bernilai ibadah tanpa melupakan dzikir kepada Allah. Aamiin.

(Catatan Sangaji)

Jumlah Views (75)