Prasetyo Siddik

Praktisi Mindfulness dan Coach di bidang pengembangan diri, beasiswa dan keluarga (life coaching).

Mindfulness Series: Belajar Memaafkan


Saat itu Muhammad sedang mencari tempat berlindung dari lemparan batu dan kejaran para penduduk Thaif. Setelah 15 malam beliau berdakwah di Thaif dan ternyata mendapat penolakan keras dari mereka. Sambil berlumuran darah dan menahan sakit, Nabi s.a.w. menemukan tempat berlindung di balik tembok milik ‘Utbah dan Syaibah, sekitar tiga mil dari Thaif. Di saat berjalan kembali ke Makkah, datanglah Jibril dengan ijin Allah swt dan menawarkan bantuan untuk menghukum orang Thaif dengan menimpakan dua gunung kepada mereka. Nabi menolak tawaran Jibril, lalu nabi berkata: Jangan wahai Jibril, siapa tahu Allah akan mengeluarkan seseorang yang beriman dari rahim mereka.

Demikianlah, pertentangan tidak harus dibalas dengan pertentangan. Menolak keburukan dengan cara yang lebih baik. Tentu hal ini menjadi sesuatu yang semakin langka. Saat masyarakat hidup dalam lautan judgment, kemudahan menilai, keterburuan, maka nalar rasional seringkali terabaikan dalam interaksi kehidupan antar pribadi. Interaksi yang tidak selalu memberikan hasil seperti yang diharapkan. Interaksi yang seringkali bersifat menang-kalah, satu diangkat dan yang lain diinjak. Interaksi dalam dunia kerja boleh jadi menimbulkan persaingan, baik yang sehat ataupun yang saling menghancurkan. Interaksi dalam dunia bisnis memberikan pengaruh terjadinya perebutan penguasaan pangsa pasar. Sedangkan interaksi dalam dunia politik dapat berujung pada berbagai upaya untuk memperkuat kekuasaan dan kewenangan. Bahkan interaksi dalam sosial kemasyarakatan, sebenarnya juga tidak steril dari dampak buruk yang mungkin saja terjadi.

Dari berbagai interaksi tersebut, tentunya dibutuhkan keterampilan komunikasi dan hubungan antar personal yang baik, supaya jalinan interaksi mampu melanggengkan persahabatan. Tentu kita tidak menginginkan bahwa ujung dari interaksi adalah permusuhan, dendam, kedengkian, yang itu semua akan terus membara dan membakar apa saja yang ada di sepanjang kehidupan.

Patut disadari bahwa semua interaksi tidak bisa dijamin berjalan dengan sempurna. Mungkin saja terjadi gesekan. Mungkin saja terjadi pertentangan, atau bahkan mungkin terjadi pertengkaran. Bahkan termasuk hubungan yang ada di dalam keluarga. Tidak selalu semuanya mulus dan indah. Baik itu hubungan antara suami istri, orang tua dan anak, atau bahkan antar anak-anak dan juga antar keluarga.

Adanya dampak buruk dari suatu interaksi itu menjadi bukti bahwa kita ini manusia normal, dengan pola hubungan yang bukan antar fisik semata. Tetapi seringkali lebih dalam, yaitu hubungan yang melibatkan hati. Jadi sangat mungkin terjadi apa yang namanya baper. Itu adalah normal.

Lalu bagaimana kita ini menyelamatkan diri dari dampak buruk interaksi? Ataukah kalau begitu kita harus mengurangi interaksi atau bahkan tidak perlu berinteraksi sama sekali? Tentu tidak, bahkan di dunia yang sudah sangat digital ini interaksi online juga tetap saja bisa memberikan dampak positif dan juga dampak negatif.

Rupanya disinilah salah satu rahasia kebahagiaan kehidupan manusia yang sesungguhnya. Jika dia memiliki keterampilan untuk memaafkan (forgiveness skill). Mungkinkah bisa? Memafkan? Itu mah mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Mungkin saja saya bisa memaafkan, tapi yang pasti saya tidak bisa menghapuskan memori buruk yang ada di dalam hati saya. Hati yang sudah tergores akan sulit untuk dibuat kembali mulus. Itulah beragam ungkapan yang seringkali terdengar. Bahkan ada yang mengungkapkan bahwa hati yang sudah pecah sulit untuk disatukan lagi hanya dengan ungkapan maaf. Ya Allah. Rabb yang Maha Membolak Balik kan hati manusia.

Jadi wajar kalau kemudian kita sering mendengar bahwa dampak buruk interaksi antar pribadi itu bahkan terbawa hingga ke liang lahat. Dendam kesumat yang tak pernah termaafkan. Apakah kehidupan yang seperti itu yang akan menjadi pilihan kita? Hidup dengan menyimpan dendam dan permusuhan dalam sebagian atau seluruh ruang hati kita?

Untuk memiliki keterampilan memaafkan ini kita perlu ingat dengan salah satu sifat Allah swt yaitu al afuww. Bahkan doa ini lebih sering terdengar saat kita menikmati hidangan suci puasa di Bulan Ramadhana melalui lafal doa: “Allahumma innaka afuwwun karim, tuhibbul afwa fa’fu ‘anni” (duhai Allah, Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, dan Engkau mencintai orang-orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah hamba).

Al Afuww dalam doa tersebut adalah merupakan asma Allah swt. Jika kita pelajari secara bahasa, maka al afwu itu memiliki asal makna menghapus dan menghilangkan. Kita bisa mendapati dalam surat al Hajj: 60: “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa al afwu dalam ayat ini bermakna Allah mengampuni dan menghapus dosa-dosa mereka berkat hijrah kepada-Nya dan tawakkal mereka kepada-Nya.

Maka sungguh luar biasa jika seseorang bisa memaafkan kesalahan orang lain sekaligus kemudian menghapuskan semua goresan luka di hatinya yang ditimbulkan dari kesalahan tersebut. Maka orang yang bisa mencapai level ini adalah telah bercermin akhlaknya kepada asma Allah yaitu al afuww.

Lalu bagaimana jika kita belum mampu sampai pada derajat al afwu tersebut? Maka perlu kita renungkan firman Allah di dalam Surat At-Taghabuun ayat 14: Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan berlaku santun, serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut menggambarkan bahwa sebuah ikatan yang kokoh yaitu keluarga bisa menjadi berantakan dan bermusuhan dalam artian musuh yang mengganggu kondisi psikologis kita karena tindakan dan perbuatan mereka yang tidak sesuai dengan keinginan. Tentu hal tersebut harus dikelola dengan cara yang baik, dan ayat tersebut telah menunjukkan caranya yaitu dengan memaafkan melalui tingkatan-tingkatan yang berbeda dalam proses memaafkan itu. Tentu yang paling tinggi adalah al afwu. Selanjutnya adalah tasfahu, yaitu berlaku santun. Kalimat berlaku santun ini menunjukkan adanya perubahan sikap dari seseorang yang semula mengalami masalah interaksi. Walau mungkin belum mampu menghapus goresan luka hatinya, tetapi memaafkan pada tingkatan ini bermakna terjadinya interaksi yang normal kembali, saling berangkulan, berbuat santun dan berlaku baik. Masa lalu mungkin saja masih belum bisa dihapuskan, namun dia mampu berdamai dengan situasi tersebut, memaafkan diri sendiri dan berlaku santun dengan mereka yang menjadi penyebab memori buruk.

Sedangkan tingkatan yang paling rendah dari memaafkan adalah mengampuni. Di sini, seolah kalau kita mendengar kalimat “mengampuni”, maka itu seolah-olah sudah merupakan level tertinggi dalam tradisi pergaulan kita, padahal dalam konteks permaafan, itu adalah level terendah. Kenapa demikian, karena taghfiru esensinya sama dengan ghofuur, yaitu yang diartikan dengan mengampuni apa yang dilakukan seseorang dengan cara menutupi kesalahan yang telah terjadi. Seperti menutupi sesuatu dengan cover atau barang tertentu. Esensinya rasa sakit dan memori buruk masih ada, tapi dia bisa menutupinya. Wallahu a’lam.

Mindfulness Series: Belajar Memaafkan


Saat itu Muhammad sedang mencari tempat berlindung dari lemparan batu dan kejaran para penduduk Thaif. Setelah 15 malam beliau berdakwah di Thaif dan ternyata mendapat penolakan keras dari mereka. Sambil berlumuran darah dan menahan sakit, Nabi s.a.w. menemukan tempat berlindung di balik tembok milik ‘Utbah dan Syaibah, sekitar tiga mil dari Thaif. Di saat berjalan kembali ke Makkah, datanglah Jibril dengan ijin Allah swt dan menawarkan bantuan untuk menghukum orang Thaif dengan menimpakan dua gunung kepada mereka. Nabi menolak tawaran Jibril, lalu nabi berkata: Jangan wahai Jibril, siapa tahu Allah akan mengeluarkan seseorang yang beriman dari rahim mereka.

Demikianlah, pertentangan tidak harus dibalas dengan pertentangan. Menolak keburukan dengan cara yang lebih baik. Tentu hal ini menjadi sesuatu yang semakin langka. Saat masyarakat hidup dalam lautan judgment, kemudahan menilai, keterburuan, maka nalar rasional seringkali terabaikan dalam interaksi kehidupan antar pribadi. Interaksi yang tidak selalu memberikan hasil seperti yang diharapkan. Interaksi yang seringkali bersifat menang-kalah, satu diangkat dan yang lain diinjak. Interaksi dalam dunia kerja boleh jadi menimbulkan persaingan, baik yang sehat ataupun yang saling menghancurkan. Interaksi dalam dunia bisnis memberikan pengaruh terjadinya perebutan penguasaan pangsa pasar. Sedangkan interaksi dalam dunia politik dapat berujung pada berbagai upaya untuk memperkuat kekuasaan dan kewenangan. Bahkan interaksi dalam sosial kemasyarakatan, sebenarnya juga tidak steril dari dampak buruk yang mungkin saja terjadi.

Dari berbagai interaksi tersebut, tentunya dibutuhkan keterampilan komunikasi dan hubungan antar personal yang baik, supaya jalinan interaksi mampu melanggengkan persahabatan. Tentu kita tidak menginginkan bahwa ujung dari interaksi adalah permusuhan, dendam, kedengkian, yang itu semua akan terus membara dan membakar apa saja yang ada di sepanjang kehidupan.

Patut disadari bahwa semua interaksi tidak bisa dijamin berjalan dengan sempurna. Mungkin saja terjadi gesekan. Mungkin saja terjadi pertentangan, atau bahkan mungkin terjadi pertengkaran. Bahkan termasuk hubungan yang ada di dalam keluarga. Tidak selalu semuanya mulus dan indah. Baik itu hubungan antara suami istri, orang tua dan anak, atau bahkan antar anak-anak dan juga antar keluarga.

Adanya dampak buruk dari suatu interaksi itu menjadi bukti bahwa kita ini manusia normal, dengan pola hubungan yang bukan antar fisik semata. Tetapi seringkali lebih dalam, yaitu hubungan yang melibatkan hati. Jadi sangat mungkin terjadi apa yang namanya baper. Itu adalah normal.

Lalu bagaimana kita ini menyelamatkan diri dari dampak buruk interaksi? Ataukah kalau begitu kita harus mengurangi interaksi atau bahkan tidak perlu berinteraksi sama sekali? Tentu tidak, bahkan di dunia yang sudah sangat digital ini interaksi online juga tetap saja bisa memberikan dampak positif dan juga dampak negatif.

Rupanya disinilah salah satu rahasia kebahagiaan kehidupan manusia yang sesungguhnya. Jika dia memiliki keterampilan untuk memaafkan (forgiveness skill). Mungkinkah bisa? Memafkan? Itu mah mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Mungkin saja saya bisa memaafkan, tapi yang pasti saya tidak bisa menghapuskan memori buruk yang ada di dalam hati saya. Hati yang sudah tergores akan sulit untuk dibuat kembali mulus. Itulah beragam ungkapan yang seringkali terdengar. Bahkan ada yang mengungkapkan bahwa hati yang sudah pecah sulit untuk disatukan lagi hanya dengan ungkapan maaf. Ya Allah. Rabb yang Maha Membolak Balik kan hati manusia.

Jadi wajar kalau kemudian kita sering mendengar bahwa dampak buruk interaksi antar pribadi itu bahkan terbawa hingga ke liang lahat. Dendam kesumat yang tak pernah termaafkan. Apakah kehidupan yang seperti itu yang akan menjadi pilihan kita? Hidup dengan menyimpan dendam dan permusuhan dalam sebagian atau seluruh ruang hati kita?

Untuk memiliki keterampilan memaafkan ini kita perlu ingat dengan salah satu sifat Allah swt yaitu al afuww. Bahkan doa ini lebih sering terdengar saat kita menikmati hidangan suci puasa di Bulan Ramadhana melalui lafal doa: “Allahumma innaka afuwwun karim, tuhibbul afwa fa’fu ‘anni” (duhai Allah, Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, dan Engkau mencintai orang-orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah hamba).

Al Afuww dalam doa tersebut adalah merupakan asma Allah swt. Jika kita pelajari secara bahasa, maka al afwu itu memiliki asal makna menghapus dan menghilangkan. Kita bisa mendapati dalam surat al Hajj: 60: “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa al afwu dalam ayat ini bermakna Allah mengampuni dan menghapus dosa-dosa mereka berkat hijrah kepada-Nya dan tawakkal mereka kepada-Nya.

Maka sungguh luar biasa jika seseorang bisa memaafkan kesalahan orang lain sekaligus kemudian menghapuskan semua goresan luka di hatinya yang ditimbulkan dari kesalahan tersebut. Maka orang yang bisa mencapai level ini adalah telah bercermin akhlaknya kepada asma Allah yaitu al afuww.

Lalu bagaimana jika kita belum mampu sampai pada derajat al afwu tersebut? Maka perlu kita renungkan firman Allah di dalam Surat At-Taghabuun ayat 14: Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan berlaku santun, serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut menggambarkan bahwa sebuah ikatan yang kokoh yaitu keluarga bisa menjadi berantakan dan bermusuhan dalam artian musuh yang mengganggu kondisi psikologis kita karena tindakan dan perbuatan mereka yang tidak sesuai dengan keinginan. Tentu hal tersebut harus dikelola dengan cara yang baik, dan ayat tersebut telah menunjukkan caranya yaitu dengan memaafkan melalui tingkatan-tingkatan yang berbeda dalam proses memaafkan itu. Tentu yang paling tinggi adalah al afwu. Selanjutnya adalah tasfahu, yaitu berlaku santun. Kalimat berlaku santun ini menunjukkan adanya perubahan sikap dari seseorang yang semula mengalami masalah interaksi. Walau mungkin belum mampu menghapus goresan luka hatinya, tetapi memaafkan pada tingkatan ini bermakna terjadinya interaksi yang normal kembali, saling berangkulan, berbuat santun dan berlaku baik. Masa lalu mungkin saja masih belum bisa dihapuskan, namun dia mampu berdamai dengan situasi tersebut, memaafkan diri sendiri dan berlaku santun dengan mereka yang menjadi penyebab memori buruk.

Sedangkan tingkatan yang paling rendah dari memaafkan adalah mengampuni. Di sini, seolah kalau kita mendengar kalimat “mengampuni”, maka itu seolah-olah sudah merupakan level tertinggi dalam tradisi pergaulan kita, padahal dalam konteks permaafan, itu adalah level terendah. Kenapa demikian, karena taghfiru esensinya sama dengan ghofuur, yaitu yang diartikan dengan mengampuni apa yang dilakukan seseorang dengan cara menutupi kesalahan yang telah terjadi. Seperti menutupi sesuatu dengan cover atau barang tertentu. Esensinya rasa sakit dan memori buruk masih ada, tapi dia bisa menutupinya. Wallahu a’lam.

Jumlah Views (106)