Prasetyo Siddik

Praktisi Mindfulness dan Coach di bidang pengembangan diri, beasiswa dan keluarga (life coaching).

Mindfulness Series: Antara Menulis dan Healing


Mindfulness Series:

Antara Menulis dan Healing

 

Akhir-akhir ini istilah healing menjadi tren. Terutama sejak pandemi covid-19 merata ke seluruh penjuru negeri. Banyak orang mengalami tekanan karena kesulitan hidup. Bukan semata kesulitan karena penyakit dan pandemi, tetapi banyak turunan masalah yang menekan kehidupan mereka. PHK yang menyebabkan kehilangan mata pencaharian, ketidakpastian berakhirnya pandemi, berita-berita hoaks yang mencekam keseharian, bahkan kesulitan komunikasi dengan keluarga dan pihak lain secara fisik. Semua itu menimbulkan rasa takut dan trauma.

Maka healing menjadi kebutuhan. Healing kemudian dimaknai sebagai bagaimana cara seseorang untuk mengatasi tekanan mental dan stress. Healing yang juga dimaknai secara mudah dengan piknik, hiburan, jalan-jalan, traveling, dan yang sejenisnya. Walau sebenarnya istilah healing ini berasal dari istilah self-healing yang merupakan kemampuan tubuh melakukan mekanisme penyembuhan secara mandiri, namun pemaknaan yang sudah meluas sebenarnya tidak salah. Karena memang kesehatan mental, kebahagiaan jiwa, pada akhirnya mendorong tubuh untuk melakukan proses healing.

Lalu bagaimana menulis dihubungkan dengan healing? Bisakah menulis menjadi sarana yang efektif untuk proses healing? Coba kita ulas secara ringkas berikut ini.

Tentu, bagi mereka yang bukan penulis, maka menulis adalah aktivitas yang membosankan. Seolah-olah menulis adalah hasil dari proses kreatif yang sulit. Padahal menulis merupakan salah satu keterampilan penting bagi siapapun untuk memperoleh kesuksesan. Karena menulis menggabungkan beberapa keterampilan sekaligus seperti berpikir, seni, berkomunikasi, kreatifitas, dan keterampilan menulis itu sendiri. Maka menulis menjadi penting untuk dipelajari dan dikuasai.

Banyak mahasiswa tingkat akhir yang merasa tertekan dengan kewajiban tugas akhirnya berupa penelitian, disertasi, tesis, dan juga skripsi. Bahkan sebagian besar dari mereka menganggap bahwa tugas akhir merupakan siksaan bagi mereka. Tapi mereka semua tidak mampu menghindarkan diri dari kewajiban tersebut. Maka sebagian dari mereka yang mampu menerima dan berdamai dengan dirinya dapat mengerjakan tugas akhir dengan baik, karena mampu menikmati dan menemukan sensasinya. Namun tak jarang dari mereka yang stress dan terkena gangguan kejiwaan akibat skripsi. Seperti salah satu mahasiswa yang akhirnya saya damping (coaching). Gejala yang terjadi adalah sering tertawa sendiri. Usut punya usut penyebab utama dari stress yang dialaminya adalah tekanan dari orang tua agar segera lulus tahun ini. Nah. Kalau sudah kejadian seperti itu apakah kemudian tertawa dan tersenyumnya itu bermakna dia menikmati proses penulisan skripsi atau tertawa yang tidak dapat dikendalikan?

Memang menulis itu menjadi sulit saat kita berpikir. Tapi cobalah menulis tanpa berpikir, tapi menulis dengan cara menumpahkan semua perasaan yang ada di dalam hati. Pasti akan melegakan. Esensinya menulis itu sangat bermanfaat bagi manusia. Sebagaimana diungkapkan oleh Louise DeSalvo, seorang Profesor Sastra dan Penulisan Kreatif di Hunter College Amerika bahwa: “Menulis telah membantu saya sembuh. Menulis telah mengubah hidup saya. Menulis telah menyelamatkan hidupku.” DeSalvo menyampaikan pengalamannya dengan kehidupan yang penuh gejolak. Masa kanak-kanak kehilangan seorang ibu, dan saat dewasa kehilangan saudara perempuannya. Bahkan DeSalvo mengalami masalah kesehatan yang parah sehingga membuatnya mengelami kekacauan kehidupan. Kemudian DeSalvo menemukan ketenangan ketika dia menuliskan pengalaman hidupnya. Dari pengalamannya tersebut maka menurut DeSalvo, menulis adalah proses yang mudah dan murah, membangkitkan inisiatif, fleksibel, sangat pribadi, namun bisa juga bermanfaat untuk publik, serta tidak memerlukan bakat bawaan. Oh ya? Jadi tidak perlu bakat untuk menulis. Apalagi jika diniatkan untuk healing, maka menulis merupakan kebutuhan.

Hal terberat yang saya rasakan pada saat menulis adalah bagaimana memulai tulisan. Selanjutnya saya juga seringkali terlalu memikirkan bagaimana nanti tulisan ini jadinya? Saya pun sibuk merancang gaya apa yang akan saya gunakan dalam menulis. Ternyata hal-hal tersebut adalah jebakan bagi saya untuk tidak menghasilkan tulisan. Maka hal terbaik agar menulis menjadi sarana healing adalah menulislah, tanpa berpikir. Menulislah tanpa merancang. Menulislah tanpa menebak-nebak akan bagaimana nanti hasilnya. Menulislah dengan mengalirkan apa yang ada di dalam kepala dan mengikuti perasaan anda untuk dituangkan ke dalam halaman-halaman kosong. Lepaskan semua yang ingin anda tulis dan biarkan mengalir begitu saja, tanpa perlu berpikir lagi.

Dan ternyata semuanya tiba-tiba deras mengalir begitu saja. Perasaan yang meluap-luap dalam diri saya teralirkan ke dalam tulisan demi tulisan. Saya tidak peduli bagaimana komentar orang akan tulisan saya, yang terpenting adalah menumpahkan emosi dan perasaan yang ada di dalam dada ke dalam tulisan. Terlebih saat menulis tetang diri kita sendiri. Mengungkapkan semua cerita tentang diri kita dan terasa seolah memiliki teman curhat yang melepaskan semua beban dengan cara yang mengasyikkan. Bahkan kita tidak perlu mencari tempat atau orang yang kita anggap bisa menyimpan rahasia kita, supaya curhatan kita tidak menyebar kemana-mana. Jika anda ingin, maka menulis tentang diri sendiri, pengalaman yang pernah terjadi baik atau buruk, semuanya bisa anda tulis. Dan sebenarnya tidak ada kewajiban bagi anda untuk kemudian menerbitkan tulisan itu. Anda bisa mencetak sendiri dan menyimpannya sendiri tanpa diketahui oleh publik. Tetapi aktivitas menulis itu sendirilah yang membuka sumbatan perasaan anda dan menjadi sarana untuk mengungkapkan perasaan dan mendapatkan kelegaan hati.

Agar memudahkan memulai, buanglah semua rasa takut yang membelenggu anda dalam menulis. Buanglah ketakutan akan perundungan atas karya anda. Ketakutan untuk tidak dihargai. Ketakutan akan penilaian orang lain. Semua rasa takut itu akan membelenggu diri kita untuk menuliskan kalimat demi kalimat. Bukankah anda tidak perlu menerbitkannya? Bukankah nanti hanya anda yang membaca? Jadi biarkanlah diri anda membaca tentang diri anda sendiri.

Jadi mulailah menulis untuk melayani diri kita sendiri, bukan menulis untuk kebutuhan pembaca, untuk supaya menjadi best seller, untuk menyenangkan orang lain. Bukan, sekali lagi menulislah untuk diri anda sendiri. Masih teringat memori saat masih muda, masa SMA dan kuliah, saya menuliskan semua perasaan saya ke dalam buku diary. Berbuku-buku saya tulis dengan menggunakan pena. Bahkan kadang dalam diary tersebut saya tuliskan puisi ungkapan hati, gambar-gambar yang mewakili perasaan. Terasa menyenangkan setelahnya. Saya menyimpan semua tulisan itu dan terkadang tersenyum-senyum malu mengingat momen-momen masa lalu. Sampai kemudian buku-buku saya itu hilang karena berpindah-pindah rumah. Jadi menulis untuk diri sendiri esensinya adalah menciptakan karya yang melayani diri anda sendiri. Sesuatu yang sangat ekslusif. Dan semua itu membantu kestabilan emosi diri kita. Semua itu membuat diri kita ini menjadi lebih berarti karena memiliki saluran pengendalian diri yang mengasyikkan.

Setelah melewati fase tersebut, cobalah bangun kesadaran diri, bahwa anda ternyata bisa menulis. Bahwa ternyata menulis itu mudah dan menyehatkan mental anda. Alangkah lebih mengasyikkan lagi jika tulisan-tulisan kita tersebut dapat menjadi pelajaran bagi orang lain. Hal ini penting, karena setiap peristiwa pastilah memiliki hikmah pembelajaran yang telah Allah pilihan untuk kita lalui. Dan pembelajaran itu telah menghantarkan kita kepada era kesuksesan dan kebahagiaan. Era saat ini, dimana kesempatan untuk berbuat baik dan memberikan manfaat bagi orang lain sangat mudah dan dimudahkan oleh Allah swt. Maka rizki yang terbaik telah dimiliki yaitu dimudahkannya kesempatan untuk berbuat baik. Semua itu adalah buah dari kesabaran diri. Pendidikan diri bahwa hakekat sabar itu adalah selalu aktif berusaha hingga Allah ridho. Maka adakah kenikmatan yang lebih tinggi dari keridhoan Allah terhadap hamba-Nya?

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” Al Quran, Surat Al-Fajr 27-30.

Mindfulness Series: Antara Menulis dan Healing


Mindfulness Series:

Antara Menulis dan Healing

 

Akhir-akhir ini istilah healing menjadi tren. Terutama sejak pandemi covid-19 merata ke seluruh penjuru negeri. Banyak orang mengalami tekanan karena kesulitan hidup. Bukan semata kesulitan karena penyakit dan pandemi, tetapi banyak turunan masalah yang menekan kehidupan mereka. PHK yang menyebabkan kehilangan mata pencaharian, ketidakpastian berakhirnya pandemi, berita-berita hoaks yang mencekam keseharian, bahkan kesulitan komunikasi dengan keluarga dan pihak lain secara fisik. Semua itu menimbulkan rasa takut dan trauma.

Maka healing menjadi kebutuhan. Healing kemudian dimaknai sebagai bagaimana cara seseorang untuk mengatasi tekanan mental dan stress. Healing yang juga dimaknai secara mudah dengan piknik, hiburan, jalan-jalan, traveling, dan yang sejenisnya. Walau sebenarnya istilah healing ini berasal dari istilah self-healing yang merupakan kemampuan tubuh melakukan mekanisme penyembuhan secara mandiri, namun pemaknaan yang sudah meluas sebenarnya tidak salah. Karena memang kesehatan mental, kebahagiaan jiwa, pada akhirnya mendorong tubuh untuk melakukan proses healing.

Lalu bagaimana menulis dihubungkan dengan healing? Bisakah menulis menjadi sarana yang efektif untuk proses healing? Coba kita ulas secara ringkas berikut ini.

Tentu, bagi mereka yang bukan penulis, maka menulis adalah aktivitas yang membosankan. Seolah-olah menulis adalah hasil dari proses kreatif yang sulit. Padahal menulis merupakan salah satu keterampilan penting bagi siapapun untuk memperoleh kesuksesan. Karena menulis menggabungkan beberapa keterampilan sekaligus seperti berpikir, seni, berkomunikasi, kreatifitas, dan keterampilan menulis itu sendiri. Maka menulis menjadi penting untuk dipelajari dan dikuasai.

Banyak mahasiswa tingkat akhir yang merasa tertekan dengan kewajiban tugas akhirnya berupa penelitian, disertasi, tesis, dan juga skripsi. Bahkan sebagian besar dari mereka menganggap bahwa tugas akhir merupakan siksaan bagi mereka. Tapi mereka semua tidak mampu menghindarkan diri dari kewajiban tersebut. Maka sebagian dari mereka yang mampu menerima dan berdamai dengan dirinya dapat mengerjakan tugas akhir dengan baik, karena mampu menikmati dan menemukan sensasinya. Namun tak jarang dari mereka yang stress dan terkena gangguan kejiwaan akibat skripsi. Seperti salah satu mahasiswa yang akhirnya saya damping (coaching). Gejala yang terjadi adalah sering tertawa sendiri. Usut punya usut penyebab utama dari stress yang dialaminya adalah tekanan dari orang tua agar segera lulus tahun ini. Nah. Kalau sudah kejadian seperti itu apakah kemudian tertawa dan tersenyumnya itu bermakna dia menikmati proses penulisan skripsi atau tertawa yang tidak dapat dikendalikan?

Memang menulis itu menjadi sulit saat kita berpikir. Tapi cobalah menulis tanpa berpikir, tapi menulis dengan cara menumpahkan semua perasaan yang ada di dalam hati. Pasti akan melegakan. Esensinya menulis itu sangat bermanfaat bagi manusia. Sebagaimana diungkapkan oleh Louise DeSalvo, seorang Profesor Sastra dan Penulisan Kreatif di Hunter College Amerika bahwa: “Menulis telah membantu saya sembuh. Menulis telah mengubah hidup saya. Menulis telah menyelamatkan hidupku.” DeSalvo menyampaikan pengalamannya dengan kehidupan yang penuh gejolak. Masa kanak-kanak kehilangan seorang ibu, dan saat dewasa kehilangan saudara perempuannya. Bahkan DeSalvo mengalami masalah kesehatan yang parah sehingga membuatnya mengelami kekacauan kehidupan. Kemudian DeSalvo menemukan ketenangan ketika dia menuliskan pengalaman hidupnya. Dari pengalamannya tersebut maka menurut DeSalvo, menulis adalah proses yang mudah dan murah, membangkitkan inisiatif, fleksibel, sangat pribadi, namun bisa juga bermanfaat untuk publik, serta tidak memerlukan bakat bawaan. Oh ya? Jadi tidak perlu bakat untuk menulis. Apalagi jika diniatkan untuk healing, maka menulis merupakan kebutuhan.

Hal terberat yang saya rasakan pada saat menulis adalah bagaimana memulai tulisan. Selanjutnya saya juga seringkali terlalu memikirkan bagaimana nanti tulisan ini jadinya? Saya pun sibuk merancang gaya apa yang akan saya gunakan dalam menulis. Ternyata hal-hal tersebut adalah jebakan bagi saya untuk tidak menghasilkan tulisan. Maka hal terbaik agar menulis menjadi sarana healing adalah menulislah, tanpa berpikir. Menulislah tanpa merancang. Menulislah tanpa menebak-nebak akan bagaimana nanti hasilnya. Menulislah dengan mengalirkan apa yang ada di dalam kepala dan mengikuti perasaan anda untuk dituangkan ke dalam halaman-halaman kosong. Lepaskan semua yang ingin anda tulis dan biarkan mengalir begitu saja, tanpa perlu berpikir lagi.

Dan ternyata semuanya tiba-tiba deras mengalir begitu saja. Perasaan yang meluap-luap dalam diri saya teralirkan ke dalam tulisan demi tulisan. Saya tidak peduli bagaimana komentar orang akan tulisan saya, yang terpenting adalah menumpahkan emosi dan perasaan yang ada di dalam dada ke dalam tulisan. Terlebih saat menulis tetang diri kita sendiri. Mengungkapkan semua cerita tentang diri kita dan terasa seolah memiliki teman curhat yang melepaskan semua beban dengan cara yang mengasyikkan. Bahkan kita tidak perlu mencari tempat atau orang yang kita anggap bisa menyimpan rahasia kita, supaya curhatan kita tidak menyebar kemana-mana. Jika anda ingin, maka menulis tentang diri sendiri, pengalaman yang pernah terjadi baik atau buruk, semuanya bisa anda tulis. Dan sebenarnya tidak ada kewajiban bagi anda untuk kemudian menerbitkan tulisan itu. Anda bisa mencetak sendiri dan menyimpannya sendiri tanpa diketahui oleh publik. Tetapi aktivitas menulis itu sendirilah yang membuka sumbatan perasaan anda dan menjadi sarana untuk mengungkapkan perasaan dan mendapatkan kelegaan hati.

Agar memudahkan memulai, buanglah semua rasa takut yang membelenggu anda dalam menulis. Buanglah ketakutan akan perundungan atas karya anda. Ketakutan untuk tidak dihargai. Ketakutan akan penilaian orang lain. Semua rasa takut itu akan membelenggu diri kita untuk menuliskan kalimat demi kalimat. Bukankah anda tidak perlu menerbitkannya? Bukankah nanti hanya anda yang membaca? Jadi biarkanlah diri anda membaca tentang diri anda sendiri.

Jadi mulailah menulis untuk melayani diri kita sendiri, bukan menulis untuk kebutuhan pembaca, untuk supaya menjadi best seller, untuk menyenangkan orang lain. Bukan, sekali lagi menulislah untuk diri anda sendiri. Masih teringat memori saat masih muda, masa SMA dan kuliah, saya menuliskan semua perasaan saya ke dalam buku diary. Berbuku-buku saya tulis dengan menggunakan pena. Bahkan kadang dalam diary tersebut saya tuliskan puisi ungkapan hati, gambar-gambar yang mewakili perasaan. Terasa menyenangkan setelahnya. Saya menyimpan semua tulisan itu dan terkadang tersenyum-senyum malu mengingat momen-momen masa lalu. Sampai kemudian buku-buku saya itu hilang karena berpindah-pindah rumah. Jadi menulis untuk diri sendiri esensinya adalah menciptakan karya yang melayani diri anda sendiri. Sesuatu yang sangat ekslusif. Dan semua itu membantu kestabilan emosi diri kita. Semua itu membuat diri kita ini menjadi lebih berarti karena memiliki saluran pengendalian diri yang mengasyikkan.

Setelah melewati fase tersebut, cobalah bangun kesadaran diri, bahwa anda ternyata bisa menulis. Bahwa ternyata menulis itu mudah dan menyehatkan mental anda. Alangkah lebih mengasyikkan lagi jika tulisan-tulisan kita tersebut dapat menjadi pelajaran bagi orang lain. Hal ini penting, karena setiap peristiwa pastilah memiliki hikmah pembelajaran yang telah Allah pilihan untuk kita lalui. Dan pembelajaran itu telah menghantarkan kita kepada era kesuksesan dan kebahagiaan. Era saat ini, dimana kesempatan untuk berbuat baik dan memberikan manfaat bagi orang lain sangat mudah dan dimudahkan oleh Allah swt. Maka rizki yang terbaik telah dimiliki yaitu dimudahkannya kesempatan untuk berbuat baik. Semua itu adalah buah dari kesabaran diri. Pendidikan diri bahwa hakekat sabar itu adalah selalu aktif berusaha hingga Allah ridho. Maka adakah kenikmatan yang lebih tinggi dari keridhoan Allah terhadap hamba-Nya?

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” Al Quran, Surat Al-Fajr 27-30.

Jumlah Views (65)