Prasetyo Siddik

Praktisi Mindfulness dan Coach di bidang pengembangan diri, beasiswa dan keluarga (life coaching).

Mindfulness Series : Sensitivitas Semesta


Saat merenungkan kembali kejadian kita sebagai manusia, maka proses tersebut tidak bisa dilepaskan bahwa manusia adalah bagian dari makro kosmos alam semesta yang diciptakan oleh Allah swt. Bahkan secara fisik, unsur-unsur penciptaan manusia adalah dari tanah, salah satu bagian penting dari bumi. Oleh karena itu, maka semua sistem yang ter-install ke alam semesta juga berlaku bagi manusia. Kejadian dan kehancuran, kehidupan, pertumbuhan, lalu kematian merupakan sebagian dari sistem yang telah Allah install untuk keseimbangan kehidupan seluruh alam semesta sebagai suatu sunnatullah.

Peru kita pahami bersama bahwa seluruh sistem dalam semesta ini berjalan dengan baik, tunduk dan teratur sesuai kehendak-Nya. Tidak ada satu bagian pun yang memiliki kehendak personal. Mereka semua seirama dan bergerak membentuk gerakan indah bermunajat, sujud dan bertasbih kepada Allah swt.

“Tidakkah kamu tahu bahwa Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).” QS. An-Nur (24): 41-42.

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” QS. Ali Imran (3): 83.

Pun dengan manusia, sebagai bagian dari makro kosmos maka manusia sujud dan tunduk dengan sukarela ataupun terpaksa, untuk mengikuti kehendak-Nya. Itulah sebabnya adanya penyakit, kerusakan alam, perubahan iklim, bencana, dan kematian itu sendiri karena alam semesta tunduk pada ketentuan Allah swt. Namun manusia dengan keistimewaan yang diciptakan oleh Allah swt, memiliki sistem mikro yang di dalamnya terletak akal dan kehendak. Sistem mikro ini lah yang membedakan dirinya dengan makhluk lainnya. Dengan akal dan kehendaknya, maka manusia memiliki pilihan untuk menempuh jalan sucinya, menyelaras dengan ketundukan dan sujudnya alam semesta ini. Namun demikian, manusia juga bisa memilih jalan lain yang merusak keseimbangan kehidupannya yaitu jalan kesombongan, jalan kekufuran, jalan yang menyesatkan dirinya dari asal penciptaannya.

Jalan keselarasan hanya bisa ditempuh dengan kejernihan hati, keikhlasan jiwa dan kesabaran dalam tindakan. Menempuh jalan keselarasan ini akan membuat kehidupan menjadi seimbang antara sistem mikro dan sistem makro. Akan terdapat hubungan yang semakin kuat antara manusia dengan makhluk lain di alam semesta ini, karena mengikuti irama yang sama yaitu irama ketundukan, sujud dan tasbih untuk mengagungkan nama Allah swt. Para peniti jalan keselarasan ini menikmati kehidupan dengan memahami semua petunjuk yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka berbuat, bersikap, dan beramal sesuai dengan petunjuk dan pedoman kehidupan tersebut, karena mereka memahami bahwa dengan meniti jalan keselarasan ini lah, keindahan kehidupan dapat terjadi. Keindahan kehidupan terwujud karena kemampuan menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan seluruh makhluk dan Sang Maha Pencipta.

Untuk bisa menemukan jalan keselarasan ini maka salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memperkuat sensitivitas semesta di dalam setiap diri kita. Dialah fitrah dimana atas dasar fitrah itu manusia diciptakan. Sensitivitas semesta akan semakin kuat seiring dengan kuatnya hubungan diri kita yang ada di bumi dengan petunjuk langit, juga kuatnya pemahaman kita akan isyarat dan tanda-tanda yang sering dikirimkan oleh Sang Maha Pencipta kepada kita. Bahkan kemampuan kita mengenali esensi diri adalah pintu bagi terbukanya hubungan yang semakin kuat dengan Pemilik Alam Semesta ini. Penting bagi kita untuk sering-sering merenungkan dan mencoba menangkap maksud dari banyak isyarat dan tanda yang dikirimkan kepada kita, dengan tujuan untuk menemukan pelajaran dan hikmah yang memperkaya jiwa. Isyarat dan tanda itu dapat berupa penyakit, bencana alam, kesenangan dan kesulitan kehidupan, bahkan kejadian-kejadian kecil yang sepele boleh jadi mengandung pembelajaran kehidupan yang dalam dan mengingatkan kita pada-Nya. Sensitivitas semesta adalah kejernihan hati memahami setiap fenomena kehidupan dan mendapatkan hikmah bagi diri. Sensitivitas semesta adalah kemampuan menghubungkan antara berbagai isyarat dan tanda dengan gerakan tunduk dan bertasbih kepada-Nya.

Kemampuan memiliki sensitivitas semesta ini akan membuat kehidupan kita menjadi lebih bahagia, karena kita menyadari bahwa dibalik segala kekuatan dan kehebatan manusia, ternyata masih memiliki banyak keterbatasan, banyak kelemahan, banyak kesalahan. Maka kekuatan sensitivitas semesta esensinya menyempurnakan kekuatan dan kelemahan manusia tersebut. Dengan sensitivitas semesta, maka manusia yang lemah menghubungkan dirinya dengan kekuatan Sang Maha Kuasa, Allah swt. Hubungan yang kokoh dengan Sang Maha Kuasa akan membuat manusia memiliki energi tambahan yang luar biasa untuk menyelesaikan peliknya berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi. Kekuatan hubungan tersebut membuat keseimbangan dalam tubuh manusia menjadi lebih baik, antara jasadnya, ruhnya, jiwa dan akalnya. Dengan memiliki keseimbangan tersebut, maka manusia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan kehidupan, karena tidak ada persoalan kehidupan yang tidak terselesaikan manakala diri kita terhubung kuat dengan Sang Maha Kuasa.

Jika kita tidak mampu memperkuat sensitivitas semesta, boleh jadi kehidupan kita akan terjebak di dalam kerumitan bumi (dunia) yang sempit dan kecil ini. Bumi yang kita pahami hanya bagian kecil dari milyaran planet yang tersebar di alam semesta ini. Maka kesempitan dan kekerdilan diri itu akan membatasi kemampuan kita dalam merespon setiap masalah, sebagaimana juga bumi memiliki keterbatasan untuk memenuhi semua keinginan manusia. Karena itu, sebenarnya bumi (dunia) ini tidak ditakdirkan olehNya menjadi tempat bagi kehidupan abadi kita, bukan kampung kita. Kampung sejati kita adalah asal dimana kita berada yaitu syurga di mana nenek moyang kita, Adam a.s, pertama kali diciptakan. Dunia ini hanya menjadi tempat transit bagi perjalanan panjang kita menuju kampung abadi. Maka selagi masih di perjalanan, sangat penting kita memahami rambu-rambu yang ada, isyarat dan tanda perjalanan yang akan mengantarkan kita agar selamat kembali ke kampung yang abadi, kelak di akhirat. Mari pahami tanda-tanda petunjuk perjalanan ini, supaya selamat perjalanan kita dan selamat sampai di kampung halaman. Persiapkan perbekalan dan selamat menikmati perjalanan, semoga kita semua bertemu kembali di kampung keabadian.

Mindfulness Series : Sensitivitas Semesta


Saat merenungkan kembali kejadian kita sebagai manusia, maka proses tersebut tidak bisa dilepaskan bahwa manusia adalah bagian dari makro kosmos alam semesta yang diciptakan oleh Allah swt. Bahkan secara fisik, unsur-unsur penciptaan manusia adalah dari tanah, salah satu bagian penting dari bumi. Oleh karena itu, maka semua sistem yang ter-install ke alam semesta juga berlaku bagi manusia. Kejadian dan kehancuran, kehidupan, pertumbuhan, lalu kematian merupakan sebagian dari sistem yang telah Allah install untuk keseimbangan kehidupan seluruh alam semesta sebagai suatu sunnatullah.

Peru kita pahami bersama bahwa seluruh sistem dalam semesta ini berjalan dengan baik, tunduk dan teratur sesuai kehendak-Nya. Tidak ada satu bagian pun yang memiliki kehendak personal. Mereka semua seirama dan bergerak membentuk gerakan indah bermunajat, sujud dan bertasbih kepada Allah swt.

“Tidakkah kamu tahu bahwa Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).” QS. An-Nur (24): 41-42.

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” QS. Ali Imran (3): 83.

Pun dengan manusia, sebagai bagian dari makro kosmos maka manusia sujud dan tunduk dengan sukarela ataupun terpaksa, untuk mengikuti kehendak-Nya. Itulah sebabnya adanya penyakit, kerusakan alam, perubahan iklim, bencana, dan kematian itu sendiri karena alam semesta tunduk pada ketentuan Allah swt. Namun manusia dengan keistimewaan yang diciptakan oleh Allah swt, memiliki sistem mikro yang di dalamnya terletak akal dan kehendak. Sistem mikro ini lah yang membedakan dirinya dengan makhluk lainnya. Dengan akal dan kehendaknya, maka manusia memiliki pilihan untuk menempuh jalan sucinya, menyelaras dengan ketundukan dan sujudnya alam semesta ini. Namun demikian, manusia juga bisa memilih jalan lain yang merusak keseimbangan kehidupannya yaitu jalan kesombongan, jalan kekufuran, jalan yang menyesatkan dirinya dari asal penciptaannya.

Jalan keselarasan hanya bisa ditempuh dengan kejernihan hati, keikhlasan jiwa dan kesabaran dalam tindakan. Menempuh jalan keselarasan ini akan membuat kehidupan menjadi seimbang antara sistem mikro dan sistem makro. Akan terdapat hubungan yang semakin kuat antara manusia dengan makhluk lain di alam semesta ini, karena mengikuti irama yang sama yaitu irama ketundukan, sujud dan tasbih untuk mengagungkan nama Allah swt. Para peniti jalan keselarasan ini menikmati kehidupan dengan memahami semua petunjuk yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka berbuat, bersikap, dan beramal sesuai dengan petunjuk dan pedoman kehidupan tersebut, karena mereka memahami bahwa dengan meniti jalan keselarasan ini lah, keindahan kehidupan dapat terjadi. Keindahan kehidupan terwujud karena kemampuan menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan seluruh makhluk dan Sang Maha Pencipta.

Untuk bisa menemukan jalan keselarasan ini maka salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memperkuat sensitivitas semesta di dalam setiap diri kita. Dialah fitrah dimana atas dasar fitrah itu manusia diciptakan. Sensitivitas semesta akan semakin kuat seiring dengan kuatnya hubungan diri kita yang ada di bumi dengan petunjuk langit, juga kuatnya pemahaman kita akan isyarat dan tanda-tanda yang sering dikirimkan oleh Sang Maha Pencipta kepada kita. Bahkan kemampuan kita mengenali esensi diri adalah pintu bagi terbukanya hubungan yang semakin kuat dengan Pemilik Alam Semesta ini. Penting bagi kita untuk sering-sering merenungkan dan mencoba menangkap maksud dari banyak isyarat dan tanda yang dikirimkan kepada kita, dengan tujuan untuk menemukan pelajaran dan hikmah yang memperkaya jiwa. Isyarat dan tanda itu dapat berupa penyakit, bencana alam, kesenangan dan kesulitan kehidupan, bahkan kejadian-kejadian kecil yang sepele boleh jadi mengandung pembelajaran kehidupan yang dalam dan mengingatkan kita pada-Nya. Sensitivitas semesta adalah kejernihan hati memahami setiap fenomena kehidupan dan mendapatkan hikmah bagi diri. Sensitivitas semesta adalah kemampuan menghubungkan antara berbagai isyarat dan tanda dengan gerakan tunduk dan bertasbih kepada-Nya.

Kemampuan memiliki sensitivitas semesta ini akan membuat kehidupan kita menjadi lebih bahagia, karena kita menyadari bahwa dibalik segala kekuatan dan kehebatan manusia, ternyata masih memiliki banyak keterbatasan, banyak kelemahan, banyak kesalahan. Maka kekuatan sensitivitas semesta esensinya menyempurnakan kekuatan dan kelemahan manusia tersebut. Dengan sensitivitas semesta, maka manusia yang lemah menghubungkan dirinya dengan kekuatan Sang Maha Kuasa, Allah swt. Hubungan yang kokoh dengan Sang Maha Kuasa akan membuat manusia memiliki energi tambahan yang luar biasa untuk menyelesaikan peliknya berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi. Kekuatan hubungan tersebut membuat keseimbangan dalam tubuh manusia menjadi lebih baik, antara jasadnya, ruhnya, jiwa dan akalnya. Dengan memiliki keseimbangan tersebut, maka manusia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan kehidupan, karena tidak ada persoalan kehidupan yang tidak terselesaikan manakala diri kita terhubung kuat dengan Sang Maha Kuasa.

Jika kita tidak mampu memperkuat sensitivitas semesta, boleh jadi kehidupan kita akan terjebak di dalam kerumitan bumi (dunia) yang sempit dan kecil ini. Bumi yang kita pahami hanya bagian kecil dari milyaran planet yang tersebar di alam semesta ini. Maka kesempitan dan kekerdilan diri itu akan membatasi kemampuan kita dalam merespon setiap masalah, sebagaimana juga bumi memiliki keterbatasan untuk memenuhi semua keinginan manusia. Karena itu, sebenarnya bumi (dunia) ini tidak ditakdirkan olehNya menjadi tempat bagi kehidupan abadi kita, bukan kampung kita. Kampung sejati kita adalah asal dimana kita berada yaitu syurga di mana nenek moyang kita, Adam a.s, pertama kali diciptakan. Dunia ini hanya menjadi tempat transit bagi perjalanan panjang kita menuju kampung abadi. Maka selagi masih di perjalanan, sangat penting kita memahami rambu-rambu yang ada, isyarat dan tanda perjalanan yang akan mengantarkan kita agar selamat kembali ke kampung yang abadi, kelak di akhirat. Mari pahami tanda-tanda petunjuk perjalanan ini, supaya selamat perjalanan kita dan selamat sampai di kampung halaman. Persiapkan perbekalan dan selamat menikmati perjalanan, semoga kita semua bertemu kembali di kampung keabadian.

Jumlah Views (47)